Mengenang Pdt. Joesoef Tappi salah satu Tokoh Agama Orang Toraja

Tongkonantoraja.com – Kembali mengingat peristiwa sejarah masa lampau, ada seorang Tokoh Toraja yang bernama Joesoef Tappi yang akhir hidupnya menjadi syahid karena menolak dipaksa untuk berpindah keyakinan pada saat melaksanakan tugas di daerah Masamba, sekarang sudah menjadi Ibukota Kabupaten Luwu Utara, Joesoef Tappi lahir tahun 1903 di dusun Sawa letaknya di atas pegunungan Sangbua sekarang diwilayah utara Kecamatan Bonggakaradeng.

Dari lima bersaudara karena keterbatasan biaya terpaksa hanya beliau yang disekolahkan oleh ayahnya Ne’ Mane seorang pemimpin spiritual agama suku (To minaa), di Sekolah Rakyat Semba Buakayu, yang awalnya dibangun oleh Indischekerk kemudian diserahkan kepada GZB (Zending) untuk dikelola, pada saat itu masih langka orang Toraja yang menjadi guru, pada Tahun 1923 Joesoef Tappi diangkat menjadi  guru, beliau termasuk ahli bahasa To minaa (bahasa sastra tinggi dalam bahasa Toraja), pada penugasan awal beliau ditempatkan di Simbuang, lalu dipindahkan ke Sekolah Rakyat di Semba, kemudian pada tahun 1928 beliau diangkat menjadi guru Injil oleh GZB  dan ditempatkan di Pantilang.

Pada tanggal 5-6 September 1928 dilaksanakan rapat pertemuan tokoh-tokoh adat Toraja pertama di Angin-angin, membahas mengenai aluk todolo, adat, dan Injil, peserta yang hadir selain para zending juga para tokoh-tokoh adat Toraja.

Kemudian pada 1930, atas permintaan sendiri, beliau dipindahkan ke Rembon, dan kemudian pada suatu saat Pdt. D.J. Van Dijk meminta kesediaan Joesoef Tappi secara tertulis untuk diurapi menjadi pendeta, tetapi ternyata beliau menjawab melalui surat tanggal 1 Mei 1941, untuk tidak mau terburu-buru menerima jabatan itu, Selanjutnya beliau berkata “Mengingat salib Kristus telah menebus dosa saya, dan bukan karena diri saya tetapi karena Tuhan yang telah datang ke dalam dunia sebagai raja dan mengingat perkataan Rasul Paulus; Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan’, akhirnya beliau’pun bersedia untuk diurapi.

Sekolah Rakyat Bua Kayu 1923Pada tanggal 26 Oktober 1941, Joesoef Tappi’, S.T. Lande, dan P. Sangka Palisungan ditahbiskan menjadi pendeta oleh Pdt. D.J. Van Dijk di Gereja Jemaat Rantepao, Pdt. Joesoef Tappi’ mendapatkan tugas pelayanan pertama di Resort Makale-Sangalla’.

Memasuki zaman pendudukan Jepang, para zending asal Belanda ditawan, kepemimpinan diambil alih oleh pendeta pribumi yang telah diurapi dengan membentuk “Koempoelan Pendeta-Pendeta”, dengan susunan pengurus; Pdt. S.T. Lande sebagai ketua, Pdt. Joesoef Tappi’ sekretaris, Pdt. P. Sangka Palisungan bendahara, Pdt. J. Soemboeng dan  F. Ba’siang menjadi komisaris dan melanjutkan pelayanan yang selama ini dilakukan oleh GZB, pada saat itu, Pdt. Joesoef Tappi’ ditugaskan ke Masamba.

Dan memang karena sudah kehendak Tuhan, pada saat bertugas di Masamba, Pdt. Tappi dibawa oleh gerombolan ke Kampung Tareo bersama dengan jemaatnya sekitar 40 orang. Mereka dimasukkan kedalam lubang perlindungan yang dibuat tentara Jepang, menurut informasi setiap hari mereka bernyanyi-nyanyi dan berdoa melaksanakan kebaktian rohani. Pada saat akan dieksekusi, pihak gerombolan menanyakan apakah mereka sudah siap menghadapi eksekusi, jika tidak mau mengubah imannya, dijawab oleh beliau; “Meskipun badan kami masih di sini, tetapi roh dan jiwa kami sudah bersama Kristus, selamanya”.

Akhirnya eksekusi dilangsungkan di suatu bukit, beberapa orang dan anak-anak Pdt. Joesoef Tappi yang selamat mengungsi ke hutan di Kampung Mariri termasuk guru Injil Baso, sebenarnya mereka pun juga akan dihabisi nyawanya, namun berkat pertolongan Tuhan, datanglah beberapa orang Toraja di bawah pimpinan Sersan S. Patioran yang berhasil membawa mereka yang selamat hidup, kembali ke Tana Toraja. (IM)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply