6 Pernyataan Tegas Mendiang Lee Kuan Yew

Tongkonntoraja.com – ‘Bapak Bangsa Singapura’ Lee Kuan Yew wafat pada Senin 23 Maret 2015. Ia dikenal sebagai sosok yang tak pernah ragu mengekspresikan pandangannya.  Ia juga kerap berbicara keras dalam setiap pidato kampanye, wawancara, juga debat parlemen.

Tak sedikit kalimat bernada tegasnya yang kerap dikutip dan dimuat di banyak media. Berikut beberapa di antaranya dikutip dari Times Herald Online, Selasa (24/3/2015):

- Everybody knows that in my bag I have a hatchet, and a very sharp one. You take me on, I take my hatchet, we meet in the cul-de-sac. That’s the way I had to survive in the past. (Speaking about his harsh treatment of opposition politician J B Jeyaretnam in Lee Kuan Yew: The Man and His Ideas, 1998)

- Semua orang tahu ada kapak di dalam tasku, kapak yang sangat tajam. Jika Anda cari masalah denganku, maka aku akan membawa kapakku itu, kita bertemu di jalan buntu. Itulah caraku bertahan hidup di masa lalu.” (Respons Lee terkait tudingan oposisi JB Jeyaretnam di buku Lee Kuan Yew: The Man and His Ideas, 1998.

- I am often accused of interfering in the private lives of citizens. Yes, if I did not, had I not done that, we wouldn’t be here today. And I say without the slightest remorse, that we wouldn’t be here, we would not have made economic progress, if we had not intervened on very personal matters – who your neighbor is, how you live, the noise you make, how you spit, or what language you use. We decide what is right. Never mind what the people think. (The Straits Times, 20 April 1987)

- Saya sering dituduh campur tangan dalam kehidupan pribadi warga. Ya, jika aku tidak melakukannya, kita tidak akan seperti ini. Dan saya katakan, tanpa penyesalan sedikit pun, kita tidak akan bisa mencapai titik ini, kita tidak akan mengalami kemajuan ekonomi, jika tidak ada campur tangan pada hal-hal yang sangat pribadi — siapa tetangga Anda, bagaimana Anda hidup, kebisingan seperti apa yang Anda buat, bagaimana Anda meludah, atau apa bahasa yang Anda gunakan. Kita memutuskan apa yang benar. Tak peduli apa yang dipikirkan orang lain. (The Straits Times, 20 April 1987)

- Whoever governs Singapore must have that iron in him. Or give it up. This is not a game of cards. This is your life and mine. I’ve spent a whole lifetime building this and as long as I’m in charge, nobody is going to knock it down. (Speech at a rally in Raffles Place, Singapore in 1980)

- Siapa pun yang memerintah Singapura harus memiliki sifat keras. Jika tidak, menyerah saja. Ini bukan permainan kartu. Ini adalah soal hidup Anda dan saya. Aku telah menghabiskan seluruh hidupku membangun ini (Singapura), dan selama saya memegang kendali, tidak ada orang yang boleh mengacaukannya. (Pidato Lee di sebuah pertemuan di Raffles Place, Singapura pada tahun 1980)

- You call me a dictator. You are entitled to call me whatever you like, but that doesn’t make me one . . . do I need to be a dictator when I can win, hands down? (Quoted in an interview with the New York Times at the World Economic Forum in Davos, Switzerland, 1999)

- Anda menyebutku sebagai diktator. Anda berhak memanggilku apapun yang Anda suka, tapi itu tak lantas menjadikanku seorang diktator… Perlukah aku jadi seorang diktator ketika aku bisa menang dengan mudahnya?” (Dikutip dalam sebuah wawancara dengan New York Times di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, 1999)

- I’m very determined. If I decide what something is worth doing, then I’ll put my heart and soul to it. The whole ground can be against me, but if I know it is right, I’ll do it. That’s the business of a leader. (Lee Kuan Yew, The man and His Ideas, 1998)
IM: – Aku orang yang sangat teguh. Jika aku merasa harus melakukan sesuatu, aku akan mengerahkan seluruh hati dan jiwaku. Tak peduli semua menentangku, jika aku tahu itu hal yang benar, aku pasti akan melakukannya. Itulah jiwa seorang pemimpin. (Dikutip dari buku The man and His Ideas, 1998)

- Even from my sick bed, even if you are going to lower me into the grave, and I feel something is wrong, I will get up. (Speaking at the 1988 National Day Rally)

- Meski aku sedang sekarat, meski jika kau berniat memasukanku ke liang kubur, jika aku merasa ada sesuatu yang salah, maka aku akan bangkit. (Dikutip dari pidatonya pada National Day 1988)

Lee Kuan Yew menghembuskan napas terakhir pada usia 91 tahun pada Senin 23 Maret. Selama 7 hari, kondisinya terus menurun sejak dirawat di rumah sakit pada 5 Februari 2015. Ia dilaporkan menderita penyakit pneumonia.

Ia meninggalkan dua putra, yaitu PM Singapura saat ini, Lee Hsien Loong dan Lee Hsien Yang, serta seorang putri bernama Lee Wei Ling. Istrinya, Kwa Geok Choo telah berpulang pada 2010 silam. (*)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply