Andi Azis, Veteran Front Eropa yang Menolak Tjakrabirawa

Tongkonantoraja.com –  Mungkin seandainya Kapten Andi Abdoel Azis tak menolak tawaran Presiden RI pertama, Soekarno untuk masuk resimen pengawal persiden “Tjakrabirawa” (EYD: Cakrabirawa), namanya akan kian tercoreng dalam sejarah Indonesia layaknya Letkol Untung Syamsuri.

Pasalnya resimen itulah yang dianggap jadi perangkat Gerakan 30 September (G30S) 1965 yang memakan korban para pejabat teras TNI Angkatan Darat. Andi Azis sendiri menolak diajak bergabung ke Resimen Tjakrabirawa lantaran sakit hati pada Soekarno.

Veteran KNIL (Koninklijk Nederlands Indisch Leger) itu sebelumnya berontak (Pemberontakan Andi Azis) pada 5 April 65 tahun silam (1950) di Makassar, hingga akhirnya ditangkap ketika hendak menjawab panggilan laporan pertanggungjawaban gerakan itu di Jakarta.

Mantan perwira KNIL yang lahir di Barru, Sulawesi Selatan pada 1924 itu, dijebloskan ke penjara, kendati menurut pengakuannya dalam Pengadilan Militer di Yogyakarta, gerakan itu lahir akibat kebutaan politik dan jadi korban adu domba.

Pun begitu, Andi Azis tetap dibui dengan vonis 14 tahun tahanan, walau akhirnya mendapat potongan hanya menjalani hukuman delapan tahun dan bebas bersyarat. Dari situlah Andi Azis merasa sakit hati karena merasa diperlakukan bak pelaku kriminal.

Soekarno saat ingin mendirikan pasukan khusus istimewa Tjakrabirawa, sempat memilih Andi Azis untuk jadi komandannya. Soekarno melihat latar belakang yang cukup gemilang untuk jadi salah satu perwira terbaik.

Walau pada era kemerdekaan berperang di pihak Tentara Kerajaan Hindia-Belanda – KNIL, tapi Andi Azis jadi salah satu dari dua perwira berdarah Indonesia yang pernah mengenyam pengalaman Perang Dunia II di Front Eropa seperti Marsekal Udara Halim Perdanakusuma.

Dikutip dari buku “Untung, Cakrabirawa dan G30S” karya Petrik Matanasi, Andi Azis terbilang satu-satunya orang Indonesia yang mendapat latihan pasukan komando dari Inggris.

Perwira asli Bugis itu dibawa pensiunan asisten residen berkebangsaan Belanda ke negeri kincir angina pada awal 1930an. Dia memasuki Leger School hingga selesai pada 1938.

Niatnya jadi prajurit terhalang pecahnya Perang Dunia (PD) II di Eropa. Dia kemudian masuk Koninklijke Leger (AD Belanda) yang ikut melawan pendudukan Jerman Nazi bersama sejumlah organisasi gerakan bawah tanah Belanda. Andi Azis juga kemudian mampu lolos melarikan diri dari Belanda ke Inggris, hingga mendapat pelatihan komando.

Pasca-PD II, Andi Azis berniat pulang untuk bertemu keluarganya dengan cara, ikut kesatuan KNIL dengan diberi pangkat Letnan Dua yang akan diberangkatkan ke Indonesia dan mendarat di Jakarta, 19 Januari 1946.

Dari sejarah karier singkat Andi Azis itulah, Soekarno berniat meminangnya jadi komandan Tjakrabirawa. Medio 1963, Brigjen Sabur atas utusan Soekarno, mendatangi Andi Azis dan memintanya menghadap Soekarno.

“Ia (Andi Azis) kadung kecewa karena diperlakukan layaknya seorang kriminal dan tidak layaknya prajurit seperti dalam tradisi Bugis, di mana lawan pun sama dihargainya layaknya teman,” tulis Petrik Matanasi dalam buku ‘Untung, Cakrabirawa dan G30S’. (Oz/Rd)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply