Sulsel Menargetkan Produksi 4,3 Juta Ton Rumput Laut Tahun 2018

Slamet Soebjakto Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, (KKP) menargetkan produksi rumput laut nasional sebesar 13 juta ton pada tahun 2018 sebanyak 4,3 juta ton atau sekitar 30% disumbang dari Sulsel.

Target tersebut diharapkan dapat dicapai, mengingat selama ini sumbangsih produksi rumput laut Sulsel terbilang besar.

Beliau mengatakan, dukungan terhadap stakeholder rumput laut yang telah bekerja keras sehingga selama lima tahun terakhir (2013–2017) volume produksi rumput laut nasional mengalami tren yang positif, dengan pertumbuhan rata-rata per tahun sebesar 11,8 %. Angka sementara tahun 2017, produksi rumput laut nasional tercatat sebesar 10,8 Juta ton.

Tak hanya itu, kata dia, nilai ekspor rumput laut Indonesia juga mengalami rata-rata pertumbuhan sebesar 3,09% per tahun selama periode tahun 2013– 2017.

Neraca perdagangan rumput laut Indonesia juga tercatat positif, dengan indeks spesialisasi produk (ISP) lebih tinggi dibanding negara-negara eksportir lainnya. Kondisi ini menandakan bahwa produk rumput laut memiliki daya saing kompetitif yang tinggi atau Indonesia merupakan negara net eksportir rumput laut.

“Tahun ini produksi rumput laut diharapkan meningkat, dan sumbangsih terbesar diharapkan pula dari Sulsel. Di mana, daerah ini sudah sangat terkenal dengan produksinya terbesar di Indonesia,” tuturnya, usai membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI), di Grand Clarion Hotel, Senin kemarin.

Dia menuturkan, saat ini telah ditetapkan peta jalan (road map) rumput laut nasional, yang diharapkan bisa segera terimplementasi secara konkrit dalam waktu dekat. Arah kebijakan pengembangan rumput laut nasional tersebut antara lain, pengembangan budidaya dan pascapanen rumput laut bernilai ekonomis guna penyediaan bahan baku bermutu untuk kebutuhan industri dan ekspor.

“Harus kita akui, walaupun Indonesia sat ini menjadi negara net eksportir nomor 1 dunia khusus untuk jenis Eucheuma cottoni dan Gracilaria, namun faktanya lebih dari 80 % ekspor rumput laut kita masih didominasi oleh bahan baku kering (raw material). Artinya, nilai tambah ekonomi yang dirasakan masih minim,” terangnya.

Melihat fakta di atas, maka industrialisasi rumput laut nasional menjadi suatu keniscayaan untuk dibangun, sehingga nilai tambah ekonomi lebih tinggi.

Dalam mewujudkan industrialisasi rumput laut yang berdaya saing ini, tentunya langkah awal yang perlu kita lakukan adalah menyatukan tekad, tanggung jawab dan persepsi yang sama diantara stakeholders terlebih antar pelaku usaha disemua mata rantai produksi dari hulu hingga hilir.

Sementara itu, Ketua Umum ARLI, Safari Azis menuturkan, peluang pengembangan rumput laut masih besar dan terbuka lebar. Harmonisasi dari hulu ke hilir sebagai konsentrasi ARLI dengan meningkatkan produksi dan menitikberatkan pada pengembangan budidaya.

Kendati demikian, pihaknya berharap pemerintah dalam membuat kebijakan harus melihat masalah secara menyeluruh. Utamanya, terkait keberlangsungan budidaya rumput laut di tanah air yang menjadi mata pencaharian petani.

“Kita mendukung kemerdekaan industri dalam negeri untuk mengolah rumput laut. Tapi, harus dengan kesiapan yang matang juga,” ujarnya.

Dan beliau menjelaskan bahwa ARLI telah membangun tim secara global di berbagai negera. Ini sebagai upaya menciptakan pasar seluas mungkin. Agar petani dapat harga pasar yang kompetitif.

“Kami menjaga semangat petani tetap jalan dengan menjaga suplai terserap oleh pasar. Kami tidak ingin seperti komoditas kakao. Produksi anjlok karena petani beralih. Karena tidak mendapatkan harga yang baik. Belum lagi pengenaan PPH dan sebagainya. Masuklah kakao impor,” terangnya (dbs).

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply